Update

8/recent/ticker-posts

Agama Harus Dijadikan sebagai Titik Pijak Semangat Memberi Solusi

 


YOGYAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Siti Noordjanah Djhonatini mengatakan, kegiatan program di ‘Aisyiyah tidak akan pernah berhenti. Terkecuali ada penolakan dari masyarakat.


“Tapi selama ini tidak ada pengalaman kita, bahwa apa yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah ditolak oleh masyarakat,” katanya dalam acara webinar Dialog Bersama Country Representative The Asia Foundation Indonesia pada Ahad (30/8).


Sudah menjadi hal yang sering terjadi, setiap program yang dijalankan oleh ‘Aisyiyah akan menjadi meluas. Meskipun, menurut Noordjannah, diawal penentuan program hanya menyasar dua sampai tiga titik, tapi seiring berjalannya program, kemanfaatannya akan dirasakan lebih luas.


Menurutnya, hal itu sebagai bukti keteguhan dan keikhlasan Ibu-Ibu ‘Aisyiyah dalam berkegiatan untuk membantu masyarakat.

Program yang dijalankan bukan semata karena terdapat konsekuensi administratif, melainkan setiap kegiatan yang dijalankan oleh ‘Aisyiyah diniatkan mutlak karena Allah SWT.


“Oleh karena itu, dalam setiap program diinginkan menjadi kontribusi dari Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang selama pandemi untuk membantu kehidupan masyarakat,” katanya.


Dalam konteks masa pandemi, Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah menjadi organisasi yang sigap dalam menyikapi gejolak yang timbul akibat covid-19.

Pandangan holistik yang dimiliki oleh Muhammadiyah, menyebabkan dalam setiap keputusan yang diambil akan memerhatikan setiap aspek.


Misalnya, dalam memberikan tuntunan penerapan protokol kesehatan, Muhammadiyah-‘Aisyiyah akan juga memberikan tuntunan protokol dalam beribadah dan lain sebagainya. Muhammadiyah ini tidak pernah lari dari kenyataan, kehidupan keumatan kebangsaan di Indonesia yang bersama dicintai.


“Bagaimana tidak mencintai, Muhammadiyah-‘Aisyiyah itu bagian dari yang mendirikan Negara ini. Jadi sebagai warga ‘Aisyiyah harus semakin yakin bahwa kita adalah pemiliki negeri,” ucapnya.


Rasa cinta kepada tanah air ini kemudian memberi konsekuensi kepada Muhammadiyah-‘Aisyiyah, jika terdapat persoalan di Indonesia tidak boleh lari.

Melainkan kehadiran Muhammadiyah-‘Aisyiyah di tengah terjadinya kekalutan yang melanda negeri harus bisa menjadi solusi.


“Pandemi ini belum selesai dan apa yang sudah dilakukan kita sebagai warga bangsa untuk melindungi jiwa kita dan saudara kita,” tuturnya.


Dalam memandang realitas, Noordjannah mengajak kepada umat beragama supaya tidak menjadikan Agama secara ‘sembrono’ sebagai pelarian atas kegagalan dan persoalan realitas.

Melainkan agama harus dijadikan sebagai titik pijak semangat memberi solusi dengan tidak mengkesampingkan ilmu-sains.


‘Aisyiyah sebagai ibu yang melahirkan negeri ini, menjadikannya selalu terlibat sebagai agen pemecah masalah yang melanda Indonesia.

Sikap tersebut sudah menjadi sikap dasar ‘Aisyiyah selama ini yang konsisten untuk mengawal dan mengupayakan kebaikan untuk warga, Negara dan bangsa Indonesia, terlebih yang menyangkut persoalan anak dan perempuan.


“Saat ini berjihad itu bukan hanya dengan memanggul bedil (senjata api), tetapi jihad kita khidzun nafs dalam pandemi ini adalah menjaga jiwa,” tuturnya.


Namun, ‘Aisyiyah sebagai ibu yang melahirkan negeri tidak boleh hanya bersedih, akan tetapi harus tetap kuat melakukan sesuatu. Kontribusi yang diberikan ‘Aisyiyah dilakukan melalui banyak cara, seperti menjalin sinergi atau berangkulan dengan pihak-pihak yang peduli untuk bersama menjadi solusi untuk negeri.[red]



Publiser : DIMA