Update

8/recent/ticker-posts

Haedar Nashir : Tanwir IPM Harus Jadi Problem Solver di Tengah Pandemi

 


YOGYAKARTA - Pembukaan Tanwir Ikatan Pelajar Muhammadiyah tahun 2020 dibuka dengan sambutan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir.

Dalam acara yang diselenggarakan pada Sabtu (29/8) secara daring ini Haedar menyampaikan beberapa nasihat pada gerakan IPM, salah satunya agar jangan sampai melupakan konteks Pandemi Covid-19 yang sedang dihadapi publik dunia saat ini.

 

“Tanwir (IPM) ini sebagaimana Tanwir Muhammadiyah dan Aisyiyah serta Tanwir ortom yang lain diselenggarakan pada waktu warga dunia menghadapi musibah Covid-19. Karena itu, kami harapkan Ikatan Pelajar Muhammadiyah dapat melaksanakannya dengan cara permusyawaratan yang baik, efisien, dan menghasilkan keputusan yang tepat dan terbaik,” tutur Haedar.

 

Haedar kemudian mengatakan bahwa mewabahnya virus Covid-19 berdampak pada banyak sektor, tidak terkecuali sektor pendidikan.

IPM sebagai ortom yang bergerak dalam ruang kepelajaran, Haedar berharap menjadi kekuatan yang menjadi solusi di kala dunia pendidikan dan warga bangsa menghadapi Pandemi Covid-19. 

 

“Sebagaimana tuntunan Tarjih yang dikeluarkan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan kebijakan secara umum, maka jadikan Tanwir ini untuk mensosialisasikan pandangan keagamaan dan kebijakan Muhammadiyah menghadapai Covid-19 agar semuanya berada dalam satu barisan, sehingga IPM memberi kontribusi untuk pergerakan Muhammadiyah dalam situasi darurat ini,” pesan Haedar.

 

Selain itu, salah satu poin yang ditekankan oleh pemerintah adalah agar pembelajaran yang dilakukan di sekolah maupun perguruan tinggi dialihkan dengan pembelajaran secara daring di rumah masing-masing.


Sebagai organisasi pelajar yang begitu lekat dengan dunia pendidikan, Haedar mengiginkan agar IPM harus menjadi kekuatan terdepan dalam mencari solusi tentang bagaimana anak-anak bangsa dapat belajar secara daring yang efektif dan mampu menyerap dunia ilmu secara baik.  

 

“Biarpun tidak sempurna, sebagaimana belajar secara langsung, tapi saatnyalah IPM memberi contoh langkah-langkah dan metode yang keren dan kreatif, membantu dunia pendidikan agar tetap menjalankan tugasnya mencerdaskan kehidupan bangsa. Jangan sampai ada keluhan di mana anak-anak Indonesia karena ada Covid-19 tidak bisa belajar dengan baik, maka IPM harus memberi edukasi kepada anak-anak milienial dan generasi bangsa lainnya,” ujar Haedar.

 

Dengan spirit nuun wa al-qalami wa ma yasturun, Haedar juga berkeinginan agar IPM tetap bergerak membenihkan budaya iqra, nilai-nilai Islam untuk semangat mencari ilmu, dan menjadi kaum terpelajar yang mencerahkan bangsanya.

 

“Islam adalah agama yang membangun peradaban hidup sebagai din al-hadarah. Islam menyebarkan tradisi dan semangat iqra sebagai wahyu pertama yang memberi tanda dan penanda bahwa risalah Islam hadir untuk membangun peradaban dunia yang rahmatan lil’alamin,” kata Haedar.

 

Karenanya bagi Haedar, IPM harus mengambil peran di dunia pelajar dan pendidikan bagaimana tradisi iqra yang telah mengukir sejarah peradaban Islam terus dihidupkan di tengah masyarakat lebih-lebih penduduk dunia dan kaum terpelajar lainnya.

 

“Jangan sampai dalam suasana musibah Covid-19 ada penurunan semangat belajar dan semangat mencari ilmu. Tentu bagi para pimpinan dan kader IPM sendiri bangunlah tradisi ilmu dan semangat mencari ilmu dengan etos yang tinggi,” imbuh Haedar.[red]



Publiser : DIMA