Update

8/recent/ticker-posts

Komisi B DPRD Jatim Minta Pabrik Gula Swasta KTM dan RMI Selesaikan Perijinan

 


Jawa Timur  - Pendirian pabrik gula KTM dan RMI di Jatim terus dipersoalkan. Pasalnya, keberadaan pabrik tersebut tersandung masalah perijinannya.“ Harus diselesaikan permasalahan pendiriannya terlebih dahulu. Ada pelanggaran dalam perijinan pendiriannya,” anggota Komisi B DPRD Jatim Subianto di Surabaya, Jumat (28/8).

 

Diungkapkan oleh Subianto, pihaknya mendorong, agar pihak manajemen kedua pabrik tersebut, untuk menyelesaikan perijinan yang belum terpenuhi. “ Nanti kalau tak terpenuhi, maka keberadaannya terancam ditutup,”jelasnya.

 

Dijelaskan, ada permasalahan perijinan yang harus dipenuhi oleh pemilik pabrik, sambung Subianto antara lain penyiapan lahan 20 % dari kapasitas yang ada."Kapasitas terpasang 6000 TCD harus menyiapkan lahan sendiri 12.000 ha. Baru sisanya petani binaan,"jelasnya.

 

Dibeberkan oleh Subianto sebenarnya ada sisi menguntungkan akan keberadaan pabrik gula KTM dan RMI tersebut dibandingkan pabrik gula BUMN yang dikelola PTPN.


“ Kalau selama ini pabrik gula yang dikelola oleh BUMN atau PTPN tidak langsung melakukan pembayaran terhadap tebu dari petani. Nunggu laku dulu baru dibayar,” paparnya.

 

Dikatakan oleh politisi asal Partai Demokrat ini, berbeda dengan pabrik gula KTM dan RMI yang dinilai menguntungkan petani tebu.” Dari segi positifnya dua pabrik swasta tersebut petani diuntungkan.

Pemasukan bagi petani tebu lebih baik untuk nilai rupiahnya daripada pabrik gula yang dikelola PTPN. Apalagi harganya juga lebih tinggi membelinya dari petani,”kata Subianto pria asal Kediri ini.

 

Banyaknya petani mengeluh jika menjual tebunya ke pabrik gula yang dikelola PTPN, kata Subianto, hingga saat ini petani yang menjual tebunya ke PTPN sejak bulan Juli hingga sampai bulan Agustus ini belum terbayarkan oleh pihak pabrik gula yang dikelola PTPN.


 “Ada petani mengeluh 100 truk yang mengangkut tebu penuh disetorkan ke pabrik gula milik PTPN belum dibayar sampai sekarang. Lalu kalau  system ini tetap dipertahankan, lalu siapa yang membayar penebang tebu.Untuk biaya yang lain untuk siapa. Pemerintah harus memperhatikan neraca perdagangan gula,”ujarnya.

 

Dengan keberadaan pabrik gula swasta yaitu KTM dan RMI, lanjut Subianto sangat membantu para petani tebu di Jatim.

"Kalau petani menjual ke KTM dan RMI begitu dikirim, satu hingga dua hari sudah dibayar oleh pihak KTM atau RMI. Bahkan satu minggu dibayar dua kali. Petani sangat senang kalau menjual di KTM dan RMI,”pungkasnya.[red-Jn]