Update

8/recent/ticker-posts

Cara Cerdas Menggaet Pemilih Muda

Jakarta - Tingginya tingkat partisipasi pemilih menjadi salah satu indikator kesuksesan sebuah pemilihan umum (pemilu).

Generasi muda yang sudah memiliki hak suara pun selalu menjadi perhatian tersendiri dalam setiap pesta demokrasi itu berlangsung. Sebab, pandangan anak muda antipati terhadap politik masih saja ada sampai saat ini.

Namun demikian, dalam sebuah jajak pendapat yang baru saja digelar perkumpulan Warga Muda nampaknya dapat memberikan secercah harapan meningkatnya perhatian kaum milenial terhadap politik, khususnya pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak yang akan dilaksankan 9 Desember 2020.

Berdasarkan jajak pendapat yang bekerja sama dengan Perludem, Golongan Hutan, Campaign, dan Change.org tersebut, sebanyak 27 persen orang menyatakan antusias dengan pilkada serentak 2020, sementara 52 persen biasa saja dan 14 persen sisanya tidak antusias.

Sebagai informasi, jajak pendapat ini dilaksanakan pada 12 Oktober hingga 10 November 2020 dengan jumlah responden sebanyak 9.087 orang melalui sarana media sosial.

Mayoritas respondennya, yakni sebesar 82 persen, adalah anak muda usia 17-30 tahun pengguna media sosial aktif yang tersebar di 34 provinsi. Profesinya pun beragam, antara lain mahasiswa atau pelajar (48 persen), karyawan (27 persen), dan sisanya mulai dari akademisi hingga yang tidak bekerja (11 persen).

Adapun alasan mereka yang menyatakan antusias, di antaranya adalah ingin daerahnya lebih maju (55 persen), ingin punya pemimpin yang lebih baik (26 persen), terpenuhi hak konstitusional (13 persen), mempertahankan pemimpin yang ada (2 persen), dan lainnya (1 persen).

Sementara yang tidak antusias beralasan terlalu berisiko ikut mencoblos karena masih situasi pandemi (44 persen), pilkada atau tidak sama saja (34 persen), dan tidak ada kandidat yang bagus (11 persen).

"Menariknya, ada yang alesannya males aja (4 persen), dan mereka yang pada hari itu ada aktivitas lain atau program yang ditawarkan paslon kurang menarik antara 1-2 persen," ungkap Komisaris Warga Muda Wildanshah dalam webinar "Peluncuran dan Diskusi Hasil Jajak Pendapat: Harapan dan Persepsi Anak Muda terhadap Pilkada 2020", pada Selasa (24/11/2020) yang lalu. 

Hasil selanjutnya juga menunjukan bahwa secara pengetahuan, sebagian besar anak muda yang menjadi responden, yakni sebesar 80 persen, sudah tahu akan ada penyelenggaraan pilkada serentak pada 9 Desember 2020.

Satu hal yang perlu menjadi perhatian, baik bagi penyelenggara maupun peserta pilkada, adalah hanya 19 persen anak muda yang paham dengan rekam jejak pasangan calon, sementara mereka yang tidak paham jumlahnya cukup besar, yakni mencapai 43 persen.

Ada hal yang menarik juga dari hasil jajak pendapat ini. Pasalnya, sebesar 41 persen anak muda ingin pilkada serentak tetap dilanjutkan dengan protokol kesehatan yang ketat. 

Sementara 37 persen lainnya ingin ditunda karena masih pandemi dan sisanya 13 persen menyatakan tidak peduli.

Kemudian, tiga dari lima responden menyampaikan pentingnya anak muda menyuarakan aspirasinya melalui pilkada, serta 4 dari 5 responden menyampaikan pentingnya mengawal pemerintah setelah pilkada.

Demikian pula pada sisi aspirasi politik, ada lima aksi yang akan dilakukan anak muda, antara lain memastikan janji kampanye dipenuhi (29 persen), memonitor berita atau bersuara di media sosial (24 persen), bersama organisasi atau komunitas mengawasi pembangunan (21 persen), hadir dan terlibat dalam penyusunan rencana pembangunan (10 persen), dan mempercayakan saja kepada pemerintah (8 persen).

Jajak pendapat ini tentu dapat menjadi salah satu masukan dan bahan pertimbangan bagi pemerintah maupun penyelenggara, terutama Komisi Pemilihan Umum (KPU), dalam menyusun strategi menggaet para pemilih muda untuk aktif berpartisipasi dalam dunia politik.

Tidak hanya saat pemilu atau pilkada saja, tapi di setiap agenda politik nasional. Sebab, kepedulian generasi muda terhadap politik dapat berpotensi meningkatkan kualitas demokrasi di Tanah Air.[IP]