Update

8/recent/ticker-posts

Tutup Akhir Tahun 2020, Puji Hartini Ziarah Makam 'Mbah Tjut' Pahlawan Aceh di Blora

Jawa Tengah - Wakil Ketua II DPRK Nagan Raya Hj. Puji Hartini, ST.MM  Salah satu politisi Partai SIRA asal Blora, Jawa tengah mengunjungi Salah Satu makam Pahlawan Nasional asal Aceh yang terasingkan bahkan Kian dilupakan hingga saat ini oleh sebagian Warga Aceh.

Pocut Meurah Intan atau Yang Dikenal Dengan Sebutan 'Mbah Tjut'. Begitu nama salah satu pahlawan asal Aceh yang makamnya berada di Tegalsari, Blora, Jawa Tengah. Meski belum banyak dikenal oleh masyarakat, namun perjuangannya membuat ciut nyali penjajah Belanda.

Riwayat menyebutkan bahwa dia lahir pada 1833 di Biheue, sebuah wilayah sagi XXII Mukim di bawah kekuasaan Kesultanan Aceh. Pocut Meurah merupakan nama panggilan khusus bagi perempuan keturunan keluarga Sultan Aceh. Dilansir dari Wikipedia, Pocut Meurah Intan termasuk tokoh kesultanan Aceh yang paling antiterhadap Belanda.

Pocut Meurah Intan pun memilih bercerai dengan suaminya, Tuanku Abdul Majid yang menyerah kepada Belanda.

Dengan menyerahnya suami, maka Pocut Meurah Intan melanjutkan perjuangan dengan mengajak anak-anaknya ikut berjuang melawan penjajah.

Tiga putra buah pernikahan dengan Tuanku Abdul Majid, yaitu Tuanku Muhammad Batee, Tuanku Budiman dan Tuanku Nurdin. Ketiga anaknya dengan gagah berani turut berjuang melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Hingga pada Februari 1900, Tuanku Muhammad Batee tertangkap oleh pasukan Belanda di wilayah Tangse, Pidie. Kemudian, Tuanku Muhammad Batee dibuang ke Tondano, Sulawesi Utara, pada 19 April 1900.

Tertangkapnya putra sulung, tak membuat Pocut Meurah Intan surut. Dia justru makin gencar berjuang. Cintanya dengan tanah kelahiran dan kepercayaaan pada agama ditambah pengaruh dari cerita Hikayat Perang Sabil, membuat Pocut Meurah Intan pantang mundur.

Pocut Meurah Intan menderita luka sangat parah di sekujur tubuh. Satu urat di keningnya putus. Sementara luka-luka yang terbuka dibalur kotoran hewan dan lumpur oleh Belanda. Akibatnya luka semakin parah hingga berulat.

Veltman yang ingin menolong ditolaknya. Dengan penyembuhan luka yang dilakukan sendiri, membuat Pocut Meurah Intan menderita cacat di kakinya.

Semangat yang tak kenal padam itu membuat Belanda menjulukinya ‘Heldhafting’ atau ‘yang gagah berani’.

Setelah sembuh, dia bersama seorang putranya, Tuanku Budiman, dijebloskan ke penjara di Kutaraja (Banda Aceh sekarang). Sementara itu, Tuanku Nurdin, tetap melanjutkan perjuangan. Hingga pada 18 Februari 1905, Belanda menemukan tempat persembunyian Tuanku Nurdin di Desa Lhok Kaju.

Tuanku Nurdin ditahan bersama ibu dan kakaknya. Pada 6 Mei 1905, Pocut Meurah Intan bersama kedua putranya dan seorang keluarga Sultan Aceh bernama Tuanku Ibrahim dibuang ke Blora, Jawa Tengah.

Kegiatan itu untuk menanamkan jiwa nasionalisme dan kepahlawanan kepada generasi muda.

Ziarah Makam Mbah Tjut Yang dilakukan Puji Hartini bersama Sang Suami M.Isa tidak lain bertujuan untuk.

"Mengenalkan kepada Segenap Pemuda Pemudi dan Masyarakat Aceh bahwa di Blora juga ada makam pahlawan yakni Pocut Meurah Intan seorang Srikandi, pejuang dari Aceh yang diasingkan ke Blora dan meninggal di sini. Pocut Meurah Intan adalah pahlawan wanita yang menentang Belanda layaknya Cut Nyak Dhien maupun Cut Nyak Meutia".Demikian Tutup puji saat dikonfirmasi (31/12),Via WhatsApp.[red_rizal]