Update

8/recent/ticker-posts

Tujuh Buku Bung Karno: Bacaan Wajib Kader PDI Perjuangan untuk Inspirasi dan Karakter Kepemimpinan

Tanam jiwa kebangsaan dengan pahami buku Di Bawah Bendera Revolusi, Sarinah, Pidato Lahirnya Pancasila, Membangun Dunia Kembali-To Build A World A New, Indonesia Menggugat, Mencapai Indonesia Merdeka, dan Mustika Rasa. 

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam berbagai kesempatan meminta kader Partai, khususnya kepala daerah dan kaum muda untuk membaca buku sejarah bangsa Indonesia. Ini bertujuan membentuk kepemimpinan yang ideologis saat terpilih sebagai kepala daerah.

Buku pertama yang wajib dibaca adalah “Di Bawah Bendera Revolusi”. Megawati menilai anak-anak muda sekarang tak mengetahui siapa itu Soekarno, Proklamator RI. Banyak yang memberi pendapat sinis seakan Soekarno hanyalah orang biasa yang kebetulan presiden RI pertama.

“Saya bilang itu namanya tidak memahami sejarah bangsa. Kalau kamu mau jadi pintar, baca dulu perjuangan Bung Karno itu apa. Itu fakta sejarah,” kata Megawati menjelaskan soal “Di Bawah Bendera Revolusi”.

Dalam Sekolah Partai Calon Kepala Daerah beberapa waktu lalu, Megawati menyebut bacaan wajib calon pemimpin yang kedua adalah “Sarinah”. Menurut Presiden ke-5 RI itu, membaca “Sarinah” semakin kontekstual di tengah kondisi kaum perempuan Indonesia yang masih mengalami berbagai kekerasan dan pengabaian perannya di ruang publik.

Megawati mengatakan, di tengah pandemi Covid-19, laporan yang masuk menunjukkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan dan anak justru makin meningkat.

“Kalian para bapak kan punya istri, punya anak perempuan. Tolong dilindungi dengan baik. Jangan mereka dikampleng, dipukul, ditampar. Itu yang harus diperhatikan,” ucap Megawati.

“Pidato Lahirnya Pancasila” buku ketiga yang disebut Megawati untuk mengetahui mengapa Pancasila lahir. Buku ini penting untuk mengetahui mengapa Pancasila lahir, sebab berisi Bung Karno dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK).

Selanjutnya adalah buku “Membangun Dunia Kembali - To Build A World A New” yang berisi pidato Bung Karno saat di PBB yang mendapatkan standing ovation dari perwakilan berbagai negara saat itu.

“Bagaimana kalian akan mempunyai inspirasi kalau dalam pikiran itu tidak ada isinya. Saya Sangat sedih kalau melihat ada yang diambil oleh KPK. KPK itu saya yang buat loh, jangan lupa loh, kalau ndak percaya lihat sejarah pembentukan KPK. MK saya buat, KPK saya buat, untuk apa? Untuk mendisiplinkan kita, kalangan pemimpin dan rakyat. Tetapi kan kebanyakan, mana ada rakyat yang bisa korupsi? Yang korupsi pasti kalangan elit,” beber Megawati.

Buku Kelima yang disebut Megawati adalah “Indonesia Menggugat” berisi gugatan Bung Karno terhadap penjajah yang memasukkannya ke dalam penjara.

Buku “Mencapai Indonesia Merdeka” adalah bacaan wajib keenam. Dari buku itu, para calon kepala daerah dapat memahami mengapa Indonesia merdeka dan mengapa bisa menjadi pemimpin. Pustaka terakhir yang disebut Megawati adalah buku tebal berjudul “Mustika Rasa”. Isinya resep makanan Indonesia yang dikumpulkan bertahun-tahun.

“Ini resep-resep dari seluruh daerah di Indonesia. Luar biasa. Setelah buku ini apakah ada buku lainnya? Nggak ada,” kata Megawati.