Update

8/recent/ticker-posts

Meraih 'Mimpi" Dengan Bertanam Kopi di Atas Batu

Catatan : Fathan Muhammad Taufiq *)

Aceh Tengah - Tidak berlebihan rasanya kalau menyebut Desa Gegarang dan Telege Sari, dua desa eks pemukiman transmigrasi yang terletak di kaki perbukitan di Kecamatan Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah ini sebagai “desa di atas batu”, karena hampir 80% permukaan lahan di kedua desa seluas kurang lebih 1.500 hektare ini ditutup oleh hamparan bebatuan mulai dari jenis koral, batuan berukuran sedang sampai batu-batu besar.

Meskipun kondisi kedua desa ini dipenuhi dengan bebatuan, tapi pepatah “Bagai kerakap tumbuh di atas batu, mati segan hidup tak mau” nyaris tidak berlaku bagi warga di kedua desa ini.

Mereka tetap dapat hidup layak dari hasil pertanian khususnya dari komoditi kopi arabika yang memang menjadi komoditi unggulan hampir semua warga di sana.

Sebagian besar warga kedua desa ini adalah warga transmigrasi yang bearasl dari beberap daerah di Jawa Tengah seperti Magelang, Temanggung, Cilacap dan Semarang, ditambah warga lokal dari berbagai kecamatan di kabupaten Aceh Tengah, mereka sudah mendiami daerah bekas kawasan hutan ini lebih dari 35 tahun.

Pada awal ditempatkannya para transmigran di kedua desa ini pada tahun 1983 ( awalnya hanya satu desa yaitu Desa Gegarang yang kemudian dimekarkan menjadi dua desa, Gegarang dan Telege Sari), mereka nyaris putus asa melihat kondisi tanah yang akan menjadi lahan pertanian mereka berupa hamparan bebatuan, padahal mayoritas dari mereka adalah petani yang sangat bergantung kepada kondisi lahan. Lahan berbatu seperti ini apa mungkin dijadikan lahan pertanian, begitu rata-rata yang ada dalam benak mereka.

Tapi para transmigran itu adalah para pekerja keras yang tidak mudah menyerah begitu saja dengan keadaan alam, meski belum begitu yakin akan bisa bercocok tanam di lahan berbatu itu, mereka tetap berusaha untuk bisa mengembangkan usaha tani di lahan baru itu. Secara perlahan mereka mulai meyakini bahwa lahan berbatu itu ternyata sangat menjanjikan untuk mengubah nasib mereka, berbagai tanaman palawija dan hortikultura seperti jagung, ubi, cabe, kol, labu dan sebagianya ternyata dapat hidup subur di tempat ini meski ditanam di sela-sela bebatuan.

Tahun pertama mereka tinggal di tempat itu, hasil panen berupa jagung dan cabe cukup berlimpah, hanya saja pada waktu itu masih terkendala masalah pemasaran akibat prasarana jalan dan angkutan yang sangat memprihatinkan, untuk sampai ke ibukota kecamatan saja (waktu itu kedua desa ini mesih masuk wilayah kecamatan Linge yang beribukota di Isaq), mereka harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 33 kilometer yang dapat mereka tempuh dalam 6 – 7 jam. Untuk bisa menjual hasil pertanian mereka, dibutuhkan tenaga “ekstra” mengangkut produk pertanian mereka dengan cara di pikul dengan menempuh perjalanan yang sangat berat.

Namun demikian, hal ini tidak membuat warga berputus asa, mereka mulai menanam tanaman tahunan yang diharapkan akan mampu menopang kehidupan mereka nantinya, pilihan mereka tentu saja komoditi kopi arabika yang memang dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di dataran tinggi. Masalahnya, untuk menanam kopi perlu membuat lubang tanam terlebih dahulu, sementara untuk membuat lubah tanam di lahan berbatu itu bukanlah hal yang mudah. Kalau hanya mengandalkan cangkul, tidak mungkin membuat lubang tanam di lahan berbatu itu, akhirnya warga mulai “mengakali”nya dengan membuat lubang tanam sekedarnya menggunakan linggis, karena untuk menyingkirkan dan memindahkan batu-batu yang jumlahnya sangat banyak itu, sangat mustahil.

Dengan usaha keras tanpa kenal lelah, akhirnya warga di kedua desa ini dapat menanam kopi di sela-sela bebatuan, sekilas tanaman kopi disitu seperti ditanam di atas batu. Pada awal pertumbuhannya, tanaman kopi itu sangat tidak menggembirakan, tanaman kopi yang baru ditanam, tumbuh sangat lambat.

Tapi begitu akar-akar tanaman mulai “menembus” tanah yang ada di bawah lapisan bebatuan itu, pertumbuhan tanaman kopi mulai nampak normal bahkan terlihat subur, ternyata di bawah bebatuan itu terdapat lapisan tanah yang sangat subur.

Usaha keras warga transmigrasi itu mulai menampakkan hasilnya pada tahun ketiga, kopi yang mereka tanam disela-sela bebatuan itu mulai berbuah, ada secercah harpan warga untuk hidup lebih baik, apalagi prasaran jalan menuju desa mereka mulai mendapat perhatian pemerintah.

Secara perlahan, produktifitas tanaman kopi merka mulai meningkat, warga pun mulai dapat menikmati “hasil keringat” mereka, kehidupan perekonomian warga mulai membaik terutama dari hasil tanaman kopi mereka yang belakangan diketahui memiliki kualitas sangat baik karena tumbuh di sela-sela bebatuan, bobot kopi yang di hasilkan di desa ini lebih berat jika dibandingkan dengan daerah di sekitarnya.

Kini setelah lebih tiga puluh lima tahun mereka menetap di wilayah perbukitan berbatu itu, kehidupan mereka boleh dibilang sejahtera, rumah-rumah warga rata-rata sudah bagus, kendaraan roda dua dan roda empat juga banyak terparkir di rumah mereka. Secara ekonomi, kehidupan mereka sudah dapat dikatakan mapan, kebutuhan sandang, pangan dan papan dapat mereka penuhi secara layak dari hasil kopi mereka, bahkan mereka juga mampu menyekolahkan dan menguliahkan anak-anak mereka juga dari hasil pertanian andalan mereka ini.

Tanaman kopi yang tumbuh di sela bebatuan itu telah mengantarkan anak-anak warga eks transmigrasi ini meraih pendidikan yang memadai, sudah banyak sarjana lahir di tempat ini bahkan beberapa di antara mereka sudah menyelesaikan pasca sarjananya.

Ternyata kondisi alam yang keras, sekeras bebatuan yang menutupi kedua desa itu meski pada awalnya menjadi kendala dan tantangan berat tapi sekarang justru membawa berkah bagi para warga, bahkan sekarang sudah banyak warga lokal dari berbagai daerah di Aceh Tengah yang memilih untuk berusaha tani di daerah ini.

Tuhan telah menciptakan akal kepada semua manusia, hal inilah yang benar-benar disadari oleh warga desa Gegarang dan Telege Sari, dengan akal fikiran, mereka mampu “menaklukkan” kerasnya bebatuan dan merubahnya menjadi lahan bertanam kopi yang subur dan menjanjikan.

Siapa sangka, hamparan bebatuan yang terlihat kering dan gersang itu ternyata mampu berubah menjadi lahan perkebunan  kopi yang subur dan menghasilkan kopi berkualitas, tentu semua itu tidak terjadi dengan tiba-tiba, perlu kesabaran dan kerja keras untuk mewujudkan itu semua, dan itu sudah dibuktikan oleh warga di kedua desa ini, mereka mampu “bertanam kopi di atas batu”, sesuatu yang sepertinya mustahil, tapi dapat dilihat dan dibuktikan keberadaannya.

Ingin membuktikannya? Silahkan kunjungi kedua desa ini, akses jalan dari Takengon, ibukota Kabupaten Aceh Tengah ke lokasi ini, sekarang sudah mulus dengan balutan aspal hotmix.

Bisa ditempuh sekitar satu setengah jam dari Takengon dengan endaraan pribadi maupun angkutan umum dengan fasilitas antar jemput. Selain bisa menyaksikan hamparan kebun kopi diatas tanah berbatu, kita juga dapat menikmati pemandangan danau kecil yang dikelilingi hamparan sawah baru yang berlokasi di bagian bawah (sebelah utara) desa ini.[sb-ip.]